

Para tenaga kesehatan yang berjibaku dalam penanganan pasien Covid-19 khawatir ikut tertular. Di tengah rasa takut dan cemas itu, mereka juga dituntut memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien. Hal ini menjadi ujian kesabaran bagi mereka yang bertugas di garda terdepan.
Ichsan Budiharto, salah seorang perawat di Rumah Sakit Soedarso Pontianak yang ditugaskan untuk menangani pasien Covid-19. Kepada Pontianak Post, ia berbagi kisah tentang pengalamannya selama menangani para pasien. Pagi itu, tepat di hari pertama ia menjalankan ibadah puasa Ramadan, Jumat (24/4). Jadwalnya melakukan tugas memeriksa kondisi pasien yang diduga mengidap virus corona.
Setelah membaca kondisi pasien yang akan ditangani, ia lantas bersiap diri. Mengenakan alat pelindung diri (APD) lengkap, mulai dari baju hazmat, sarung tangan berlapis, masker, sepatu boot, kacamata, hingga penutup wajah. Meski menggunakan APD lengkap, tak lantas membuat dirinya merasa lebih aman. “Setiap akan masuk ruangan, ada rasa takut dan cemas,” tuturnya, Jumat sore.
Setiap kali bertugas, ia selalu berharap dapat memberikan pelayanan yang baik bagi para pasien. Namun begitu, ia mengaku sulit memberikan pelayanan secara optimal, dikarenakan penggunaan APD lengkap yang menyulitkan pergerakan. Penggunaan hazmat juga membuat tubuhnya gerah hingga keringat pun bercucuran.
“Kondisinya panas dan sulit bergerak, tidak bisa lebih selincah ketika tidak menggunakan APD. Kita ingin memberikan yang terbaik tapi terkendala kondisi yang sulit,” ucapnya.
Pemandangan juga kadang terlihat kabur. Bukan karena gangguan penglihatan, tapi kacamata yang digunakan sering berembun terkena embusan napas. Satu jam setengah saja menggunakan APD lengkap, menurutnya sudah cukup membuat kepalanya berdenyut pusing.
Perawatan rutin ia berikan ketika bertugas menangani para pasien. Mulai dari observasi, memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, hingga pernapasan, dan mengganti infus bila diperlukan. Terkadang bila ada pasien yang tidak bisa makan sendiri, para perawatlah yang dengan suka rela menyuapkan.
Satu orang perawat biasanya menangani satu kamar dengan jumlah pasien sekitar 4-5 orang. Setiap pasien dipisahkan dengan sebuah sekat. Perawat menghabiskan waktu rata-rata sekitar 15-30 menit untuk memeriksa pasien. “Satu kamar itu bisa menghabiskan waktu 1-1,5 jam,” sebut dia.
Setiap pasien menurutnya punya tingkat keparahan yang berbeda. Ada pasien yang mandiri, sehingga tidak perlu penanganan ekstra. Ada pula beberapa kasus yang mana pasien harus dirawat secara total. Perawatan total ini kadang membutuhkan dua orang perawat. “Kalau kita ingin memandikan pasien misalnya, perlu dua orang perawat. Kadang menghabiskan waktu satu jam untuk memandikan,” tutur dia.
Para perawat seringkali mendapat keluhan yang sama dari para pasien. Mereka rata-rata tidak betah berlama-lama dan ingin segera pulang. “Kondisi mereka kan tidak ada pengunjung. Jadi mereka merasa bosan. Mereka juga sering menanyakan tentang keluarga mereka,” ucapnya.
Perawat juga kerap mendapat pertanyaan yang sama dari pasien. Yakni, soal hasil pemeriksaan apakah positif atau negatif, serta kapan diperbolehkan untuk pulang. Perawat hanya bisa meminta pasien untuk bersabar. “Kalau ada yang tanya kapan hasil keluar, kami bilang tunggu saja dulu, kalau dua kali swab negatif, mungkin sudah diperbolehkan pulang,” katanya.
Selepas melakukan pemeriksaan terhadap pasien, perawat segera mandi untuk menghilangkan virus yang boleh jadi menempel. “Saat pulang ke rumah, kekhawatiran berkurang. Tapi kami tetap harus menjaga jarak dengan anggota keluarga yang lain,” jelasnya.
Ditanya soal penanganan pasien pada bulan puasa, dia mengatakan, untuk sementara masih berjalan normal. “Kebutuhan pasien tidak berubah selama bulan puasa. Jadi kami agak ekstra pada saat buka dan sahur,” tutur dia.
Dengan kondisi ini, dia berharap tidak diperparah dengan penambahan jumlah pasien positif atau pasien dalam pengawasan (PDP). Karena itu, dia meminta dengan sangat kepada masyarakat untuk mengerti kondisi para tenaga kesehatan dan membantu mereka dengan cara menerapkan physical distancing.
Sementara itu, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kalimantan Barat, Haryanto mengatakan, peran para tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan pasien Covid-19, membuat mereka menjadi kelompok yang paling berisiko terpapar virus tersebut. Sekalipun mereka memakai setelan APD lengkap, tidak serta merta membuat mereka menjadi lebih aman dari ancaman virus.
“Selain APD, mereka juga butuh asupan gizi dan isitirahat yang cukup untuk menjaga stamina. Jangan sampai mereka mudah tertular,” kata dia.
Selain tenaga kesehatan yang menangani Covid-19, mereka yang juga rentan terpapar virus ini adalah para tenaga kesehatan yang tidak menangani secara langsung pasien Covid-19. Mereka misalnya yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit, baik rujukan Covid-19 ataupun tidak, yang berada di poli umum maupun khusus, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), serta fasilitas kesehatan lain.
“Terbukti, ada beberapa rumah sakit yang melakukan rapid test, hasilnya reaktif dan itu kebanyakan kena ke teman-teman yang ada UGD maupun poli,” kata dia.
Karena itu, pihaknya sangat berharap dukungan dari pemerintah dan berbagai pihak lain, terhadap para petugas kesehatan yang rentan terpapar virus. Kondisi kesehatan mereka juga perlu diperhatikan, mengingat semakin lama, jumlah pasien terus bertambah. Penambahan jumlah pasien ini, mestinya diiringi dengan penambahan jumlah tenaga kesehatan yang memadai. (sti)